Hal ini diungkapkan oleh Ir. Ahyahudin Sodri ST., MSc., ST
dari Asosiasi Produsen Alat Kesehatan Indonesia, dalam konferensi pers IndoHCF
Innovation Awards 2018 di Jakarta, Selasa (6/3). Salah satu yang jadi kendala mengapa alat kesehatan di
Indonesia masih lambat adalah karena proses pengembangan yang cukup lama.
Termasuk dari sisi keamanan.
Selain itu, alat
kesehatan juga harus memiliki nilai jual. "Alat kesehatan harus memenuhi
dua aspek. Aspek teknis dan aspek ekonomis, untuk alat kesehatan tidak
mudah," kata Ahyahudin.
Walaupun begitu, Ahyahudin mengakui bahwa Indonesia sudah
bisa mengekspor alat kesehatan. Terutama yang berupa hospital furniture dan
consumable seperti sarung tangan. "Tapi saya apresiasi pemerintah Indonesia sudah punya
program bagaimana pengembangan alkes ini sampai tahun 2035."
Saat ini program tersebut diakui sudah terfokus pada
teknologi menengah.
Beberapa perusahaan juga diakui sudah mampu membuat alkes
seperti x-ray, peralatan laboratorium, hingga mesin anestesi
"Ini sinyal yang bagus," tambahnya.
Untuk ke depannya, Ahyahudin berharap masyarakat untuk
bersabar hingga Indonesia mampu mengembangkan alat
kesehatan yang high-tech. Indonesia
Healthcare Forum kembali menggelar IndoHCF Innovation Awards. Penghargaan ini
kedua kalinya diadakan di Indonesia.
Tujuan dari
kegiatan ini adalah untuk memberikan penghargaan kepada instansi dan kelompok
atau individu yang berhasil menjalankan program peningkatan pelayanan kesehatan
melalui karya karya yang inovatif. "Karya
anak bangsa itu banyak, tetapi kurang ada yang mewadahi," kata DR. dr.
Supriyantoro, Sp.P, MARS, ketua IndoHCF.
Adapun
kategori penghargaannya adalah:
1. Inovasi
Program Gerakan Masyarakat Hidup Sehat
2. Inovasi
SPGDT (Sistem Penanggukangan Gawat Darurat Terpadu)
3. Inovasi
Kesehatan ibu dan anak
4. Inovasi
Alat Kesehatan
5. Inovasi
ICT di bidang kesehatan

0 comments: