Beberapa
waktu lalu media televisi, cetak maupun online mengabarkan meninggalnya pakar
kuliner Indonesia Bondan Winarno.
Salah
satu yang menyedot perhatian publik adalah mengenai komplikasi aritmia yang
dialami Bondan pasca menjalai operasi jantung.
Di
lansir dari Kompas.com Kamis(30/11/2017) dengan berita “Mengenal Aritmia lewat
Kasus Kematian Bondan Winarno”
Apa
sebenarnya arimia itu?
Kompas.com
melalui sambungan telepon pada Rabu (29/11/2017), dr Dian Setiawan Sp JP FIHA M
Kes, menyebutkan aritmia adalah kelainan denyut jantung.
Aritmia
berarti detak jantung yang tidak normal. Ini bukan berarti detak jantung Anda
lebih lambat atau lebih cepat, melainkan detak jantung Anda keluar dari ritme normalnya.
"Aritmia
terjadi karena denyut tidak teratur. Memang aritmia itu basically, kelainan
yang ada dalam jantung atau komplikasi yang terjadi akibat kelainan jantung
yang lain," ujar cardiologist Indriati Heart Centre Solo Baru tersebut.
Dilansir
dari WebMD, Kamis
(27/07/2017), aritmia mungkin terasa seperti jantung yang berdetak kencang dan
ditambahkan ritme terlalu cepat (takikardia) atau terlalu lambat (bradikardia).
Bahkan bisa jadi, Anda tidak memperhatikan apapun karena beberapa aritmia
"diam".
Seperti
yang dikatakan Dian, aritmia bisa disebabkan banyak hal. Mulai dari memang
bawaan kelainan jantung, hingga komplikasi yang muncul setelah berbagai masalah
jantung yang dialami seseorang.
Pada
kasus Bondan Winarno, aritmia disebut-sebut muncul pasca operasi.
"Ada
juga pada waktu tindakan, jantung itu kalau 'direparasi' kondisinya kan hidup,
biasanya jika terjadi komplikasi berupa aritmia," kata Dian.
Tipe
Aritmia
Dian
juga menyebutkan bahwa aritmia punya banyak macam. Tingkat keparahannya pun
beragam, mulai dari ringan hingga dapat menyebabkan kematian. Beberapa di
antaranya, seperti yang dikutip WebMD berikut ini:
1.
Kontraksi atrial prematur, merupakan denyut ekstra awal yang dimulai di atrium.
Biasanya, kontraksi ini tidak berbahaya dan tidak membutuhkan pengobatan.
2.
Kontraksi ventrikel prematur (PVC), adalah salah satu aritmia yang paling
sering terjadi. Biasanya kontraksi ini akan “melewatkan detak jantung”.
Kadang-kadang kita merasakannya. Hal ini dapat berhubungan dengan stres atau
terlalu banyak kafein atau nikotin. Namun bisa juga, PVC disebabkan oleh
penyakit jantung atau ketidakseimbangan elektrolit.
3.
Fibrilasi atrium, adalah irama jantung tidak teratur yang menyebabkan bilik
atas jantung berkontraksi abnormal.
4.
Atrial flutter, adalah aritmia yang biasanya lebih terorganisir dan teratur
dibandingkan fibrilasi atrium. Hal ini terjadi paling sering pada penyakit
jantung dan pada minggu pertama setelah operasi jantung. Tapi aritmia ini
sering berubah menjadi fibrilasi atrium.
5.
Paroxysmal supraventricular tachycardia (PSVT), yaitu detak jantung yang cepat.
Biasanya dengan irama yang teratur, mulai dari atas ruang bawah jantung, atau
ventrikel. PSVT dapat tiba-tiba terjadi dan berakhir.
6.
Jalur tambahan takikardi, yaitu detak jantung lebih cepat karena ada jalur
tambahan antara ruang atas dan bawah jantung.
7.
AV node reentrant tachycardia, adalah jenis lain dari detak jantung yang cepat
(takikardi). Biasanya disebabkan oleh adanya jalur tambahan melalui bagian dari
jantung yang disebut nodus AV. Hal ini dapat menyebabkan jantung berdebar,
pasien pingsan seketika (sinkop), atau gagal jantung. Dalam beberapa kasus,
Anda dapat menghentikannya hanya dengan bernapas dan berisitrahat. Beberapa
obat juga dapat menghentikan irama jantung ini.
8.
Takikardia ventrikel (V-tach), yaitu irama jantung cepat yang dimulai dari
ruang jantung yang lebih rendah. Ini bisa menjadi aritmia yang serius,
terutama pada orang dengan penyakit jantung.
9.
Fibrilasi ventrikel, adalah kelainan denyut jantung ketika ruang jantung yang
lebih rendah bergetar dan tidak dapat berkontraksi atau memompa darah ke tubuh.
Ini adalah keadaan darurat medis yang harus diobati dengan CPR (resusitasi
jantung) dan defibrilasi sesegera mungkin.
10.
Sindrom QT panjang, yaitu aritmia yang berpotensi bahaya dan kematian mendadak.
Dokter bisa mengobatinya dengan obat atau perangkat yang disebut defibrillator.
11.
Bradiaritmia, adalah irama jantung lambat karena ada gangguan pada sistem
listrik jantung.
12.
Disfungsi sinus node, adalah irama jantung lambat akibat masalah dengan simpul
sinus jantung. Beberapa orang dengan jenis aritmia ini perlu alat pacu jantung.
13.
Blok jantung, yaitu ada penundaan atau blok total pada impuls listrik karena
perjalanan dari sinus node jantung untuk ruang jantung yang lebih rendah.
Jantung berdenyut tidak teratur sering lebih lambat. Dalam kasus-kasus serius,
maka pasien membutuhkan alat pacu jantung.
Di
lansir dari alodokter.com dengan artikel "Pengertian Aritmia"
Berkonsultasi
dengan dokter sangat penting jika muncul gejala-gejala seperti yang disebut di
atas. Hal itu bertujuan agar dokter bisa segera mendiagnosa jenis artimia yang
dialami dengan cepat dan tepat.
Penyebab
Aritmia
Ada
beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya aritmia, di
antaranya:
Ketidakseimbangan
kadar elektrolit dalam darah. Kadar
elektrolit seperti kalium, natrium, kalsium, dan magnesium mampu mengganggu
konduksi impuls listrik di jantung, sehingga meningkatkan risiko terjadinya
aritmia.
Penggunaan
narkoba. Penggunaan obat-obatan terlarang
seperti amfetamin dan kokain dapat memengaruhi kinerja jantung secara langsung
sehingga meningkatkan risiko untuk terjadinya fibrilasi ventrikel dan
jenis-jenis aritmia yang lain.
Efek
samping obat-obatan. Beberapa obat batuk dan
pilek yang dijual bebas di apotek dapat meningkatkan risiko seseorang untuk
mengalami aritmia.
Terlalu
banyak mengonsumsi alkohol. Konsumsi alkohol
dalam jumlah yang berlebihan mampu memengaruhi impuls listrik jantung sehingga
meningatkan risiko terjadinya fibrilasi atrium.
Terlalu
banyak mengonsumsi kafein maupun nikotin (merokok).
Kafein dan nikotin menyebabkan jantung berdetak lebih cepat dari normal, dan
dapat berkontribusi terjadap terjadinya aritmia.
Gangguan
kelenjar tiroid. Kelenjar tiroid yang
terlalu aktif atau kurang aktif mampu meningkatkan risiko terjadinya aritmia.
Sleep
apnea obstruktif.
Kelainan ini, di mana pernapasan menjadi terganggu pada saat tidur, dapat
meningkatkan risiko bradikardia, fibrilasi atrium, serta jenis aritmia yang
lainnya.
Diabetes.
Selain meningatkan risiko aritmia, diabetes
yang tidak terkontrol juga mampu meningkatkan risiko penyakit jantung koroner
dan tekanan darah tinggi.
Hipertensi
atau tekanan darah tinggi. Hipertensi akan
menyebabkan dinding bilik kiri jantung menebal dan menjadi kaku, sehingga
aliran listrik jantung akan terganggu.
Penyakit
jantung koroner, gangguan lain pada jantung, atau riwayat operasi jantung.
Penyempitan pembuluh darah arteri jantung, serangan jantung, kelainan pada
katup jantung, gagal jantung, dan kerusakan jantung lainnya merupakan faktor
risiko dari hampir segala jenis aritmia.
Diagnosis
Aritmia
Untuk
mendiagnosis aritmia dokter akan melakukan beberepa tes, di antaranya:
Ekokardiogram.
Untuk mengevaluasi fungsi katup dan otot jantung serta mendeteksi penyebab
aritmia dengan bantuan gelombang suara ultrasound.
Elektrokardiogram
(EKG). Untuk merekam aktivitas elektrik di
dalam jantung dengan menempelkan elektroda pada permukaan kulit di dada.
Uji
Latih Beban Jantung. Pasien akan diminta untuk
melakukan latihan fisik, seperti mengayuh sepeda statis atau berjalan di atas
treadmill. Kemudian tekanan darah dan denyut jantung pasien diteliti melalui
monitor. Metode diagnosis ini dipadukan dengan elektrokardiogram. Dari tes ini,
dokter dapat melihat seberapa jauh tingkat keteraturan irama jantung sebelum
berubah oleh pengaruh aktivitas fisik tadi.
Monitor
Holter. Cara kerja alat ini tidak jauh berbeda
dengan elektrokardiogram. Namun bedanya, alat yang bernama monitor Holter ini
bisa dibawa pasien pulang agar dapat merekam aktivitas jantungnya selama dia
melakukan rutinitas tiap hari.
Studi
elektrofisiologi. Lokasi aritmia dan
penyebabnya dapat diketahui dengan menggunakan teknik pemetaan penyebaran
impuls listrik di dalam jantung. Dokter akan memasukkan sebuah kateter yang
dilengkapi elektroda ke beberapa pembuluh darah di dalam jantung. Studi
elektrofisiologi juga bisa digunakan serupa seperti metode tes tekanan, dengan
cara merangsang jantung berkontraksi pada tingkat yang dapat memicu perubahan
detak dengan menggunakan elektroda tersebut.
Kateterisasi
jantung. Metode ini menggunakan alat yang sama
dengan studi elektrofisiologi, yaitu kateter. Namun pada kateterisasi jantung,
pemeriksaan dilakukan dengan bantuan zat pewarna khusus dan X-ray untuk
mengetahui kondisi beberapa bagian jantung seperti bilik, koroner, katup, serta
pembuluh darah.
Pada
beberapa kasus, dokter dapat dengan mudah mendiagnosis aritmia melalui
pemeriksaan denyut jantung biasa. Namun ada beberapa kondisi selain aritmia
yang juga memiliki gejala yang sama. Untuk memastikan pasien menderita aritmia
serta penyebabnya, tes-tes yang lebih detil harus dilakukan. Hasil diagnosis
akan memudahkan dokter dalam menentukan jenis pengobatan yang sesuai.
Pengobatan
Aritmia
Ada
sebagian pasien aritmia yang tidak membutuhkan pengobatan. Pengobatan biasanya
diberikan dokter jika melihat gejala aritmia pasien berpotensi menjadi lebih
buruk atau menyebabkan komplikasi. Jenis pengobatan yang dilakukan adalah:
Obat-obatan,
misalnya obat-obatan penghambat beta yang
dapat menjaga denyut jantung agar tetap normal. Ada juga obat-obatan
antikoagulan seperti aspirin, warfarin, rivaroxaban, dan debigatran yang
menurunkan risiko terjadinya penggumpalan darah dan stroke.
Alat
picu jantung dan implantable cardioverter defibrillator (ICD). Untuk
menjaga detak jantung tetap normal pada kasus-kasus aritmia tertentu. Alat ini
dipasang di bawah kulit dada bagian atas pasien. Ketika alat ini mendeteksi
adanya perubahan ritme jantung, alat ini akan mengirim sengatan listrik pendek
ke jantung guna menghentikan ritme yang tidak normal tersebut dan membuatnya
kembali normal.
Kardioversi.
Jika suatu kasus aritmia tidak bisa ditangani dengan obat-obatan, kardioversi
akan dilakukan. Dokter akan memberikan kejutan listrik ke dada pasien untuk
membuat denyut jantung kembali normal. Kardioversi elektrik biasanya diberikan
pada kasus aritmia fibrilasi atrium dan takikardia supraventrikular.
Metode
ablasi. Untuk mengobati aritmia yang letak
penyebabnya sudah diketahui. Dokter akan memasukkan sebuah kateter dengan
panduan X-ray melalui pembuluh darah di kaki. Ketika kateter berhasil menemukan
sumber gangguan ritme jantung, maka alat kecil itu akan merusak bagian kecil
jaringan jantung tersebut.
Pencegahan
Aritmia
- Aritmia dapat dicegah melalui langkah-langkah berikut ini:
- Menghindari atau mengurangi stres.
- Mengonsumsi makanan sehat.
- Menjaga berat badan ideal
- Tidak sembarangan mengonsumsi obat tanpa petunjuk obat dari dokter, terutama obat batuk dan pilek yang mengandung zat stimulan pemicu jantung berdetak cepat.
- Membatasi konsumsi minuman keras dan berkafein.
- Tidak merokok dan berolahraga secara teratur.
Komplikasi
Aritmia
Komplikasi
terjadi jika aritmia membuat jantung tidak mampu memompa darah secara efektif.
Jika aritmia tidak segera ditangani atau tidak mendapat penanganan yang tepat,
maka dalam jangka panjang pasien bisa mengalami gagal jantung, stroke, bahkan
bisa berujung kematian.

0 comments: