Di
kutip dari kompas.com. Saat liburan tahun baru, tentu akan makan dengan lahap.
Hampir setiap makanan bila tak dijaga dengan baik akan dilahap. Nah, ada
beberapa hal yang bisa dilakukan agar terhindar dari masalah kesehatan pada
tahun 2018. Berikut ini enam kebiasaan baik yang bisa memperpanjang umur Anda
dan bisa Anda jadikan resolusi di tahun 2018 nanti:
1. Kunyah makanan secara perlahan
Anda bisa memulai dengan mengunyah makanan secara perlahan agar mengasup rendah
kalori. Sebab, orang yang mengunyah perlahan cenderung tidak mengalami obesitas
atau tak punya masalah metabolisme, penyakit jantung, diabetes dan risiko
stroke, menurut penelitian terbaru yang dipresentasikan di American Scientific
Sessions 2017, sebuah acara global yang diadakan pada bulan November yang
membagikan perkembangan terbaru dalam ilmu kardiovaskular. "Mengunyah
lebih lambat mungkin merupakan perubahan gaya hidup yang penting untuk membantu
mencegah sindrom metabolik," kata Takayuki Yamaji, seorang ahli jantung di
Universitas Hiroshima di Jepang dan penulis studi tersebut.
"Saat orang
makan cepat, mereka cenderung tidak merasa kenyang dan lebih cenderung makan
berlebihan. Makan cepat menyebabkan fluktuasi glukosa yang lebih besar, yang dapat
menyebabkan resistensi insulin,” kata Takayuki. Waspadalah terhadap
kalori, terutama saat Anda sedang santai. Orang Amerika sendiri tercatat hampir
6 persen lebih banyak mengasup kalori pada hari Sabtu daripada hari lain dalam
sepekan, dan 3 persen lebih banyak pada hari Jumat, menurut analisis penghitung
jutaan kalori dari aplikasi penurunan berat badan Lose It!
2. Kurangi makan camilan Industri makanan
camilan di Amerika Serikat fantastis, nilainya 33 milliar dollar AS, dengan
rata-rata setiap rumah menghabiskan 133 dollar AS setiap tahun untuk camilan di
sela makan makanan utama, menurut data yang dirilis Nielsen. Hampir seperempat
(24 persen) orang makan camilan di sela-sela makan utama dibanding lima tahun
lalu, atau 21 persen jika menurut riset lain dari NPD Group.
Camilan sehat juga turut meningkat. Produk
camilan ringan yang tidak dimodifikasi secara genetik meningkat lebih dari 18
persen dalam penjualan selama lima tahun terakhir, diikuti oleh produk camilan
yang bebas dari pewarna dan rasa buatan (16 persen) dan tidak/dikurangi
mengandung gula (11 persen). Relatif, rata-rata camilan hanya mengalami
kenaikan lebih dari 1 persen.
3. Hindari terlalu sering order makanan di
luar Memasak makanan sendiri di rumah jauh lebih baik untuk kesehatan,
dibanding harus makan di restoran atau order makanan via online. Jumlah layanan
delivery atau pesanan makanan lewat telepon dan internet melonjak 18 persen
tahun lalu menjadi 1,9 miliar, menurut temuan NPD. Makan malam adalah makanan
yang paling sering dipesan secara online, dan keluarga adalah pengguna digital
terberat pemesanan daring.
Orang-orang yang berusia di bawah 35 tahun dan
mereka yang memiliki pendapatan rumah tangga yang lebih tinggi adalah pengguna
pemesanan daring di atas rata-rata dengan aplikasi seperti Seamless dan
Grubhub. Di Indonesia sendiri juga terdapat beberapa aplikasi yang terhubung
dengan ojek online yang dikhususkan untuk pemesanan makanan.
Atas
dasar situasi tersebut, orang-orang menjadi kurang memiliki kontrol atas apa
yang masuk ke makanan mereka saat mereka memesan—yang turut serta dapat
mengurangi kesehatan mereka.
Orang Amerika Serikat sendiri mendapatkan sebagian besar sodium harian mereka—lebih dari 75 persen—dari makanan olahan dan makanan restoran, menurut Centers for Disease Control and Prevention. Orang-orang makan rata-rata 200 kalori lebih banyak per makanan saat mereka makan makanan dari restoran, menurut sebuah penelitian tahun 2015.
Hampir 9 dari 10 anak-anak di Amerika Serikat makan
lebih banyak sodium daripada yang direkomendasikan, dan sekitar 1 dari 9
anak-anak telah menaikkan tekanan darah, kata CDC. Orang harus mengonsumsi
kurang dari 2.300 miligram sodium setiap hari, CDC merekomendasikan. Mereka
yang berusia 51 tahun ke atas harus membatasinya sampai 1.500 miligram. Namun,
kebanyakan orang Amerika Serikat mengonsumsi 3.400 miligram garam per hari.
5. Hindari minum soda Sebuah artikel New
York Times yang diterbitkan awal bulan ini mengatakan bahwa Presiden AS Donald
Trump mengonsumsi "selusin minuman ringan bersoda bebas gula" setiap
hari. Namun, para peneliti terpecah atas apakah minuman bersoda bebas gula itu
benar-benar membantu orang menurunkan berat badan, menurut sebuah tinjauan
ulang tahun 2017 tentang penelitian yang diterbitkan di Canadian Medical
Association Journal. Satu teori: minuman ringan bersoda bebas gula bisa
mengondisikan tubuh untuk membutuhkan kalori. Minuman yang dimaniskan secara
artifisial terkait dengan peningkatan risiko stroke dan demensia, demikian
menurut jurnal Stroke American Heart Association.
Studi tahun 2015 lainnya menemukan bahwa perempuan
yang lebih tua yang mengonsumsi dua atau lebih minuman bersoda bebas gula per
hari, 30 persen lebih mungkin mengalami masalah kardiovaskular. Apalagi soda
biasa berkaitan dengan masalah obesitas.
6. Hati-hati dengan minuman alkohol Satu
dari delapan orang Amerika Serikat melawan kecanduan alkohol, menurut sebuah
penelitian pada bulan September 2017 yang dipublikasikan di JAMA Psychiatry.
"Amerika Serikat menghadapi krisis dengan penggunaan alkohol yang saat ini
semakin memburuk," katanya. Mengobati kecanduan alkohol sekarang merupakan
industri bernilai miliaran dollar AS dan menghabiskan biaya medis sebesar 223
miliar dollar AS.
Tetap saja terkait dengan beberapa risiko
termasuk kanker payudara, kolon, kerongkongan, serta kepala dan leher, demikian
menurut penelitian terbaru yang dikaji oleh American Society of Clinical
Oncology.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "6 Pola Makan untuk Gaya Hidup Sehat Agar Usia Lebih Panjang".
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "6 Pola Makan untuk Gaya Hidup Sehat Agar Usia Lebih Panjang".

0 comments: